Pernah merasa pikiran tidak berhenti bekerja meskipun sebenarnya tidak ada hal besar yang sedang terjadi? Memikirkan sesuatu berulang kali, khawatir tentang masa depan, atau terus mengingat kesalahan di masa lalu adalah hal yang sering dialami banyak orang.
Overthinking sering muncul ketika kita terlalu memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Kita mencoba mencari semua kemungkinan, memikirkan berbagai skenario, hingga akhirnya membuat diri sendiri merasa lelah.
Sebagai Gen Z, kebiasaan overthinking bisa semakin mudah muncul karena banyaknya informasi yang kita terima setiap hari. Melihat kehidupan orang lain di media sosial, membandingkan pencapaian, atau merasa takut tertinggal sering membuat pikiran menjadi semakin penuh.
Salah satu cara mengurangi overthinking adalah belajar membedakan mana hal yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak. Tidak semua hal harus mendapatkan jawaban sekarang. Ada beberapa hal yang memang membutuhkan waktu.
Selain itu, cobalah untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Terkadang kita terlalu fokus mencari kekurangan sampai lupa menghargai usaha yang sudah dilakukan.
Mengalihkan pikiran ke hal yang lebih positif juga bisa membantu. Melakukan aktivitas sederhana seperti berjalan sebentar, menulis perasaan, mendengarkan musik, atau melakukan hobi dapat memberikan ruang bagi pikiran untuk beristirahat.
Ingat bahwa tidak semua pikiran harus dipercaya. Terkadang pikiran hanya sedang merasa takut, bukan sedang memberikan kenyataan.
Belajar mengurangi overthinking bukan berarti berhenti berpikir, tetapi belajar mengatur pikiran agar tidak menguasai diri sendiri.
Pelan-pelan belajar tenang, karena pikiran yang damai juga butuh waktu untuk dibangun. 🌱

